Archive for the Toughts Category

Baby Born at Hospital

Posted in Events, Toughts with tags , , , , , on May 12, 2009 by Firstiar N

Until this time, most people think that doctors and nurses are good people. They work hard as best as they can to care to their patients so most of people will entrust them when they ill. Everywhere arround the world, that might be true. But here in Indonesia, specially on government hospital, that somewhat to good to be true. Most people do their job unwillingly (if you don’t want to call that lazy). Only think about we paid this much, we care that much (well … not only in medical world actually, almost every aspect of life in this country affected by this).

I have a sample case. My poor nephew, born in government hospital, he didn’t receive a proper treatment for birth case in hospital. Let me explain it first. When a baby born at hospital, they MUST perform blood tests. One of their purpose is to see is there any bilirubin excees on his/her blood. If bilirubin concentration is over 10, the baby must have an extra treatment for that. Why they must? Because they have instrument for that. Unlike those wo help to give birth at home. But this government hospital didn’t do a single blood test on my nephew. Never know their reason.

The next is about the plasenta. This should be cleaned properly, using alcohol if needed to. and protect it to prevent any infections. What kind of infections? Well, if it not protected properly, when the baby pee, it might be infected from that. Other case is when we change diapers, if it not protected properly, it might infected by the air. My nephew? got nothing. Not the clean thing, not the protection thing.

Then what happen? In the 5th days, he show a yellowish eyes and skin, sign of to high bilirubin concentration on his blood. We rush to ER on nearest private hospital to do some blood test. We surprised that his bilirubin concentration is 33, more than three times it’s maximum allowed on human body (which is 10). After a day of full treatment on NICU, that concentration can only decreased one point. Just one point. The doctor said that the only way to save him is blood transfusion. Unfortunately, because of his condition is to weak, we can’t perform that since it will threaten his life it self. And my poor nephew passed away gracefully exactly one week after his born.

Well, my nephew condition is worse than just that actually, with a suspiction of a heart defect. But appart of that, the high bilirubin concentration it self is way to dangerous to let it go. So I think I must inform this to anyone who , whatever the reason, visit my blog and read this post. If you have a plan to give a birth to your baby at hospital, BE SURE to ask blood test periodically (at the very least, after birth and before you leave). Ask whenever you found any anomalies on the baby behavior. Even it just a tiny anomalies. If the doctor answer is not satisfy your questions, find any info about it on the net. Just to make sure your baby got a proper treatment.

For those who give a birth at home, the blood test is optional (considering it’s not good to bring the new baby out for quite distance). But if you feel ANY anomalies, rush to hospital before everything is to late.

Hope this post useful for those who need this informations.

Advertisements

Lusi oh Lusi…

Posted in Toughts with tags , , on July 1, 2008 by Firstiar N

Lusi …. a.k.a Lumpur Sidoarjo …
Dua tahun sudah sejak bencana tersebut terjadi. Masyarakat sedikit demi sedikit mulai melupakannya. Media massa telah melepas bidikan darinya. Namun nasib para korban masih belum juga mendapat kejelasan.

Ketika bencana tersebut terjadi, banyak orang bersimpati, banyak orang yang mendukung para korban untuk mendapatkan ganti rugi. Sehingga tekanan kepada PT. Lapindo Brantas untuk memberi ganti rugi begitu besar. Pada akhirnya, pertengahan tahun 2007, sekitar setahun yang lalu, Lapindo Brantas menyetujui untuk melakukan ganti rugi kepada korban lusi tersebut. Sebuah kesepakatan pun terjadi. Saat itu Lapindo Brantas menyetujui untuk membayar 20% ganti rugi sebagai uang muka, dan 80% sisanya setahun kemudian. Rakyat pun mulai lega. OK lah … setahun masih bisa ditahan-tahan. Masih bisa mencoba sabar.

Sekarang, setahun telah berlalu. Bulan juni yang baru saja lewat adalah tenggat waktu bagi Lapindo Brantas untuk melunasi hutang-hutangnya kepada para korban. Tapi apa yang terjadi? Korban masih tak kunjung mendapat kejelasan. Semua masih terlihat hablur (istilah kerennya, blurry :p). Lagi-lagi Lapindo Brantas mengulur-ulur waktu pelunasan seolah-olah berharap para korban lupa bahwa masih ada 80% lagi hak mereka yang belum dilunasi oleh Lapindo Brantas.

Dan sialnya, pemerintah terkesan adem ayem atas hal itu. Padahal, banyak sekali kepentingan dari para korban yang tidak semuanya bisa menunggu lama. Apalagi menunggu rumah pengganti yang tak kunjung jelas kapan selesai dibangunnya. Padahal banyak korban yang terpaksa berhutang dan semakin lama semakin menumpuk karena harta mereka, hak mereka yang sejatinya bisa dipakai untuk melunasi hutang, “ditilep” Lapindo Brantas dan masih ga jelas kapan akan dikembalikan. Saya semakin ga respek dengan Lapindo Brantas. Kayaknya daripada PT Lapindo Brantas, mending ganti nama jadi PT Lapindo Brengsek aja kali yah? Yah … kalau memang kami para korban harus “ditenggelamkan” dalam Lusi, biar lah. Biar sekalian kami kutuk mereka yang menenggelamkan kami agar sengsara dunia akhirat.

NB: Maap di paragraf akhir rada kasar. BT ama kapitalis, pemerintah, aparat, cendekiawan, dan pihak-pihak terkait yang melakukan KKN di depan mata para korban. Makin lama bisa hilang nasionalismeku kalau semua elemen bangsa begini terus >.<

Shadaqah: sisi lain yang tak terekspos!

Posted in Snack for the souls, Toughts with tags , on June 20, 2008 by Firstiar N

Shadaqah dan Infaq. Kebanyakan ustadz umumnya hanya menghimbau tentang baiknya bershadaqah atau berinfaq. Dengan mengemukakan janji-janji Allah, dengan logika bahwa harta yang kita shadaqahkan itu adalah tabungan untuk akhirat kelak. memang sebenarnya ya begitulah shadaqah dan infaq. Saking seringnya diceramahi begitu ya pastilah banyak yang tau. Yang jadi masalah kan tidak semua orang selalu mikirin akhirat setiap saat. Terutama bagi yang lebih condong ke duniawi. Jadi kalau cuma diiming-iming yang seperti saya sebut di atas, kadang kurang mengena. Apalagi kalo sudah mikir untung rugi duniawi.

Benarkah hanya sampai begitu saja masalah pendistribusian rizki dari Allah tersebut? Banyak yang tidak sadar bahwa rizki dari Allah kepada hambanya itu sudah ada porsinya sendiri-sendiri. Entah seberapa banyak yang punya hak pada suatu rizki, tapi secara garis besar bisa dibagi dua. Penerima dan bukan penerima. Penerima di sini adalah orang yang menerima langsung rizki dari Allah. Entah itu berupa harta, kesehatan, ilmu, dsb. Yang dimaksud bukan penerima adalah orang-orang yang berhak atas rizki tersebut selain si penerima tadi. Misal, kalau rizkinya berupa harta, yang termasuk bukan penerima mungkin adalah orang-orang yang menerima shadaqah dari harta tersebut, atau orang-orang yang mendapatkan rizki dari transaksi dengan menggunakan harta tersebut (penjual yang mendapat untung misalnya), atau mungkin murid-murid yang mendapat ilmu dari gurunya, dsb. Btw anyway busway, yang saya maksud porsi/jatah di sini adalah yang untuk urusan dunia seperti untuk makan, biaya pendidikan, dsb.

Porsi untuk yang bukan penerima mungkin berubah-ubah tergantung bagaimana si penerima ini mengolah rizkinya. Tapi satu hal yang pasti, dan sepertinya tidak disadari oleh si penerima, bahwa porsi penerima biasanya mendekati pasti. Yang nantinya dia terima nantinya ya segitu itu. Apapun yang dia coba lakukan kalau memang jatahnya dia segitu ya dapetnya segitu. Malah mungkin bisa kurang dari itu. Bukan berarti lantas orang ngga boleh usaha loh. Toh bisa jadi jatah kita baru bisa didapat sepenuhnya setelah usaha. Contoh, ada orang punya harta katakanlah 10 juta. Setelah dikurangi macem-macem shadaqah, sisa mungkin 7 juta (anggaplah orang ini dermawan banget ^_^a). Jadi apakah jatah dia untuk urusan dunia memang 7 juta itu? Belum tentu. Bisa saja lebih dari itu. Tergantung usaha dia. Kalau dari 7 juta itu dipakai modal, mungkin nantinya bisa mendapat lebih dari itu sampai pada batas jatahnya.

Ok. Dari tadi ngomongin jatah melulu. Lantas apa hubungannya jatah dengan shadaqah? Saya sendiri ga tau apakah ini bisa dibilang berkaitan langsung atau tidak. Monggo dinilai sendiri :). Problemnya gini. Kita ambil contoh yang tadi. Ada orang punya harta 10 juta dan jatah dia adalah 7 juta. Apa yang terjadi kalau orang tersebut pelit sepelit-pelitnya manusia sehingga yang 3 juta tadi tetep dia simpan tanpa di-shadaqah-kan/di-infaq-kan? Apakah jatah dia nambah jadi 10 juta? Tidak. Jatahnya tetep 7 juta. Bahkan mungkin bisa kurang dari itu. Lho? Bagaimana caranya? Yah … Allah itu Maha Adil rekan-rekan sekalian. Kalau kita ngotot tidak mau mengeluarkan yang bukan hak kita, Allah akan mengeluarkannya secara paksa dan mungkin justru lebih banyak dari kalau kita keluarkan dengan ikhlas. Contoh … pengalaman pribadi nih … Saya dulu termasuk orang yang pelit. Susah banget kalo diajak shadaqah, infaq, dsb. Lebih cenderung menggunakan harta yang diterima untuk kepuasan pribadi. Hasilnya? Toh kepuasan pribadi yang didapat ga bertahan lama. Barang yang dibangga-banggakan hilang begitu saja (ngga begitu saja sih … diembat orang lebih tepatnya >.<). Bahkan nilai yang hilang itu jauh lebih besar kalo seandainya saya mau dengan ikhlas menyisihkan sedikit dari harta tersebut.

Jadi buat yang masih susah keluarin duit buat ngebantu sesama, udah deh ga usah kelamaan mikir. Ngga ada ruginya kok. Daripada dipaksa, mending ikhlas … sama2 disisihkan, tp yg ikhlas dapet nilai lebih di mata Allah. Dulu nih, waktu masih suka nyimpen2 duit (baca: pelit), rizki kayaknya sereet gitu sampai-sampai saya pakai pembenaran untuk nyimpen. Nyatanya, sekarang ketika udah coba di-loose dikit. Malah agak2 lancar mengalir si rizki. Emang bener kata bapak. Orang kalo dermawan (ngga peduli kaya, pas-pasan, ataupun miskin, asal ikhlas) selalu ada aja sumber rizki penggantinya dengan tak henti-henti.

Jadi …. yuk … Shadaqah 🙂

Axis from NTS – Satan Card?

Posted in Snack for the souls, Toughts with tags , , , on May 5, 2008 by Firstiar N

As we all know (for Indonesian people), We have new GSM network operator called Axis from NTS, PT (Natrindo Telepon Seluler). This network operator offer cheap rates under incumbent network operators. They offer Rp.60/sms, Rp.60/minute on net (local and inter area), Rp.600/minute local off net, and Rp.1,200/minute inter area off net. Cheaper than most incumbent operators like Telkomsel (Simpati) who offer Rp.100/sms on net, Rp.150/sms off net, Rp.750/minute on net and Rp. 800/minute local off net and Rp.1000/minute inter area off net, Exelcomindo (Bebas) who offer Rp.150/sms, Rp.750/minute on net, and Rp.1,500/minute off net (no difference between local and inter area), and Indosat (IM3) offer Rp.100/sms , Rp.900/minute on net, and R.1,500/minute off net (same as XL). But when compared to 3 (Three), a 1 year old operator, 3 (Three) play evenly with Axis. They offer free rate for sms on net, Rp.100/sms off net, Rp.83/minute on net (Axis win for this last two), Rp.439/minute local off net, and Rp.1,100/minute inter area off net.

So, for those who want to use a group number and mostly call within group, chose Axis as they offer cheapest on net price. But those who use it individually and mostly call inter operator (off net), would be wise to use 3 (three).

OK. Enough for detail about Axis and it’s comparison to other operators. Now we continue to the problem.

lately, there’re a lot of rumors about Axis as satanic card. Those who spread this rumor said that based on number 6 that used for rates. Rp.60/sms, Rp.60/minute, and Rp.600/minute … plus the price for Axis starter pack is Rp.6000. They connect those numbers, as their own discretion, with 666 which, according to them, number of satan. They spread a rumors that this Axis is one of Devil church tools to collect funds. They aggressively try to persuade people not to use Axis with various testimonies (whether those testimonies are authentic or not, no one knows). They even try to read AXIS backward, again… at their own discretion, as SIX-A which read 6 A (I don’t even know what A stands for in this case (-_-)a ). They also make an abbreviation, again… at their own discretion, and wrote AXIS as A-Xis which read Anti-Christ.

Read comments of those fanatics on blog’s comments here.

My contra thought about those satan fanatics:

I wonder, do they never go to schools before? How come the don’t understand about the word “Axis” mean? It just as simple as a center or a line. For those who don’t know the meaning of “Axis”, read about it here. That’s the counter explanation of those SIX-A or A-Xis freak.

How about this. Rp.1/second on net and Rp.10/second off net. How did you calculate them on per minute basis? Rp.60/minute and Rp.600/minute. Just as simple as that. for the SMS rate, Rp.55 + tax 10% would be 55 + 5.5 rounded down = Rp.60/sms. So what wrong with this number? FYI, for inter area rate, Axis USE Rp.1,200 INSTEAD OF Rp.6,000. They also use Rp.10/10kB as their data rate, no 6 there. So give me a break you 666 maniac.

Besides, You care so much for unproven words like the profit will go to Devil church, but never care about solid fact that most of US funds are for their military as the biggest aggressor in the world. And you provide them by buying their products under license (where those license money of course taxed which go to government). What did you do? Stop consuming those products? NO. YOU ENJOY THEM THE VERY SAME AS THEY ENJOY AXIS’ SERVICES. So just shut up fellow hypocrites. *masa maling teriak maling* :p

Guys. Have you ever consider about the effect of what you done? Don’t you ever think that if Axis goes bankrupt, they have so many employees which must carry the burden. Being jobless. Who will feed them? You guys? I don’t think so. You just a group of hypocrites who talk loudly to accuse something has connection with evil, but then hiding after society took the burden of what you’ve done.

So, my suggestion is, stop thinking about axis as satanic card, evil card, or whatever you said. Direct your voice to the real evil, those who eat people fund, those who corrupted, those who chose prestige above people suffering. There’s a lot of real evil need your attention out there. Go Go Go … !!! 🙂

========
Satanic card? yeah right … :p

Tahun Baru

Posted in Toughts on December 27, 2006 by Firstiar N

Jutaan orang, bahkan mungkin milyaran orang menunggunya. Menanti detik-detik kedatangannya. Dan ketika dia benar-benar datang, semua orang bersuka cita menyambutnya. Entah di club, di kafe, di jalanan, maupun di rumah. Semua bersorak gembira dengan datangnya Tahun Baru.

Setiap orang mengharapkan peruntungan baru, pembaruan nasib, dan sebagainya. Intinya, mengharapkan sesuatu untuk dirinya yang lebih baik dari tahun sebelumnya yang akan ditinggalkan.

Tetapi, sadarkah kita bagaimana waktu yang akan kita tinggalkan tersebut akan bersaksi atas segala perbuatan kita ketika menggunakan waktu tersebut? Sadarkah kita, bahwa dengan datangnya Tahun Baru ini, umur kita terus berkurang? Sadarkah kita akan perbuatan yang telah kita perbuat pada waktu-waktu yang telah lewat?

Entah kenapa, aku lebih suka di rumah. Duduk termenung. Merenungkan apa-apa saja yang telah kuperbuat selama setahun ini. Seberapa jauh penyimpangan-penyimpangan yang kulakukan dari shirath yang mustaqim. Dan tentu saja, hasilnya bisa dibilang banyak. Mulai dari hal kecil, hingga hal-hal besar yang kadang masih juga kuanggap remeh. Padahal, pada tahun sebelumnya, aku sudah berharap dan berusaha untuk memperbaikinya. Namun entah kenapa, masih juga sulit untuk mewujudkan harapan tersebut.

Tahun ini, aku masih tetap berharap akan terwujudnya perbaikan pada perilaku-ku sendiri. Apa-apa yang aku lakukan dan perbuat nanti. Bagaimana memulai untuk membenahi tatanan diri yang masih amburadul ini. Bagaimana meluruskan arah yang sudah serampangan ini. Dan masih banyak lagi perbaikan dan pembenahan yang ingin kulakukan.

Oh … dan … tentu aja. Setelah tahun-tahun kemarin selalu diwarnai kegagalan dalam mencari pendamping hidupku kelak, Semoga dalam tahun ini aku bisa menemukannya (ato mendapatkannya yah … kayaknya udah nemu deh … tapi …….. hmmm). Intinya gitu dah :p

Nah, bagaimana dengan anda? 🙂