Archive for the Snack for the souls Category

Shadaqah: sisi lain yang tak terekspos!

Posted in Snack for the souls, Toughts with tags , on June 20, 2008 by Firstiar N

Shadaqah dan Infaq. Kebanyakan ustadz umumnya hanya menghimbau tentang baiknya bershadaqah atau berinfaq. Dengan mengemukakan janji-janji Allah, dengan logika bahwa harta yang kita shadaqahkan itu adalah tabungan untuk akhirat kelak. memang sebenarnya ya begitulah shadaqah dan infaq. Saking seringnya diceramahi begitu ya pastilah banyak yang tau. Yang jadi masalah kan tidak semua orang selalu mikirin akhirat setiap saat. Terutama bagi yang lebih condong ke duniawi. Jadi kalau cuma diiming-iming yang seperti saya sebut di atas, kadang kurang mengena. Apalagi kalo sudah mikir untung rugi duniawi.

Benarkah hanya sampai begitu saja masalah pendistribusian rizki dari Allah tersebut? Banyak yang tidak sadar bahwa rizki dari Allah kepada hambanya itu sudah ada porsinya sendiri-sendiri. Entah seberapa banyak yang punya hak pada suatu rizki, tapi secara garis besar bisa dibagi dua. Penerima dan bukan penerima. Penerima di sini adalah orang yang menerima langsung rizki dari Allah. Entah itu berupa harta, kesehatan, ilmu, dsb. Yang dimaksud bukan penerima adalah orang-orang yang berhak atas rizki tersebut selain si penerima tadi. Misal, kalau rizkinya berupa harta, yang termasuk bukan penerima mungkin adalah orang-orang yang menerima shadaqah dari harta tersebut, atau orang-orang yang mendapatkan rizki dari transaksi dengan menggunakan harta tersebut (penjual yang mendapat untung misalnya), atau mungkin murid-murid yang mendapat ilmu dari gurunya, dsb. Btw anyway busway, yang saya maksud porsi/jatah di sini adalah yang untuk urusan dunia seperti untuk makan, biaya pendidikan, dsb.

Porsi untuk yang bukan penerima mungkin berubah-ubah tergantung bagaimana si penerima ini mengolah rizkinya. Tapi satu hal yang pasti, dan sepertinya tidak disadari oleh si penerima, bahwa porsi penerima biasanya mendekati pasti. Yang nantinya dia terima nantinya ya segitu itu. Apapun yang dia coba lakukan kalau memang jatahnya dia segitu ya dapetnya segitu. Malah mungkin bisa kurang dari itu. Bukan berarti lantas orang ngga boleh usaha loh. Toh bisa jadi jatah kita baru bisa didapat sepenuhnya setelah usaha. Contoh, ada orang punya harta katakanlah 10 juta. Setelah dikurangi macem-macem shadaqah, sisa mungkin 7 juta (anggaplah orang ini dermawan banget ^_^a). Jadi apakah jatah dia untuk urusan dunia memang 7 juta itu? Belum tentu. Bisa saja lebih dari itu. Tergantung usaha dia. Kalau dari 7 juta itu dipakai modal, mungkin nantinya bisa mendapat lebih dari itu sampai pada batas jatahnya.

Ok. Dari tadi ngomongin jatah melulu. Lantas apa hubungannya jatah dengan shadaqah? Saya sendiri ga tau apakah ini bisa dibilang berkaitan langsung atau tidak. Monggo dinilai sendiri :). Problemnya gini. Kita ambil contoh yang tadi. Ada orang punya harta 10 juta dan jatah dia adalah 7 juta. Apa yang terjadi kalau orang tersebut pelit sepelit-pelitnya manusia sehingga yang 3 juta tadi tetep dia simpan tanpa di-shadaqah-kan/di-infaq-kan? Apakah jatah dia nambah jadi 10 juta? Tidak. Jatahnya tetep 7 juta. Bahkan mungkin bisa kurang dari itu. Lho? Bagaimana caranya? Yah … Allah itu Maha Adil rekan-rekan sekalian. Kalau kita ngotot tidak mau mengeluarkan yang bukan hak kita, Allah akan mengeluarkannya secara paksa dan mungkin justru lebih banyak dari kalau kita keluarkan dengan ikhlas. Contoh … pengalaman pribadi nih … Saya dulu termasuk orang yang pelit. Susah banget kalo diajak shadaqah, infaq, dsb. Lebih cenderung menggunakan harta yang diterima untuk kepuasan pribadi. Hasilnya? Toh kepuasan pribadi yang didapat ga bertahan lama. Barang yang dibangga-banggakan hilang begitu saja (ngga begitu saja sih … diembat orang lebih tepatnya >.<). Bahkan nilai yang hilang itu jauh lebih besar kalo seandainya saya mau dengan ikhlas menyisihkan sedikit dari harta tersebut.

Jadi buat yang masih susah keluarin duit buat ngebantu sesama, udah deh ga usah kelamaan mikir. Ngga ada ruginya kok. Daripada dipaksa, mending ikhlas … sama2 disisihkan, tp yg ikhlas dapet nilai lebih di mata Allah. Dulu nih, waktu masih suka nyimpen2 duit (baca: pelit), rizki kayaknya sereet gitu sampai-sampai saya pakai pembenaran untuk nyimpen. Nyatanya, sekarang ketika udah coba di-loose dikit. Malah agak2 lancar mengalir si rizki. Emang bener kata bapak. Orang kalo dermawan (ngga peduli kaya, pas-pasan, ataupun miskin, asal ikhlas) selalu ada aja sumber rizki penggantinya dengan tak henti-henti.

Jadi …. yuk … Shadaqah 🙂

Axis from NTS – Satan Card?

Posted in Snack for the souls, Toughts with tags , , , on May 5, 2008 by Firstiar N

As we all know (for Indonesian people), We have new GSM network operator called Axis from NTS, PT (Natrindo Telepon Seluler). This network operator offer cheap rates under incumbent network operators. They offer Rp.60/sms, Rp.60/minute on net (local and inter area), Rp.600/minute local off net, and Rp.1,200/minute inter area off net. Cheaper than most incumbent operators like Telkomsel (Simpati) who offer Rp.100/sms on net, Rp.150/sms off net, Rp.750/minute on net and Rp. 800/minute local off net and Rp.1000/minute inter area off net, Exelcomindo (Bebas) who offer Rp.150/sms, Rp.750/minute on net, and Rp.1,500/minute off net (no difference between local and inter area), and Indosat (IM3) offer Rp.100/sms , Rp.900/minute on net, and R.1,500/minute off net (same as XL). But when compared to 3 (Three), a 1 year old operator, 3 (Three) play evenly with Axis. They offer free rate for sms on net, Rp.100/sms off net, Rp.83/minute on net (Axis win for this last two), Rp.439/minute local off net, and Rp.1,100/minute inter area off net.

So, for those who want to use a group number and mostly call within group, chose Axis as they offer cheapest on net price. But those who use it individually and mostly call inter operator (off net), would be wise to use 3 (three).

OK. Enough for detail about Axis and it’s comparison to other operators. Now we continue to the problem.

lately, there’re a lot of rumors about Axis as satanic card. Those who spread this rumor said that based on number 6 that used for rates. Rp.60/sms, Rp.60/minute, and Rp.600/minute … plus the price for Axis starter pack is Rp.6000. They connect those numbers, as their own discretion, with 666 which, according to them, number of satan. They spread a rumors that this Axis is one of Devil church tools to collect funds. They aggressively try to persuade people not to use Axis with various testimonies (whether those testimonies are authentic or not, no one knows). They even try to read AXIS backward, again… at their own discretion, as SIX-A which read 6 A (I don’t even know what A stands for in this case (-_-)a ). They also make an abbreviation, again… at their own discretion, and wrote AXIS as A-Xis which read Anti-Christ.

Read comments of those fanatics on blog’s comments here.

My contra thought about those satan fanatics:

I wonder, do they never go to schools before? How come the don’t understand about the word “Axis” mean? It just as simple as a center or a line. For those who don’t know the meaning of “Axis”, read about it here. That’s the counter explanation of those SIX-A or A-Xis freak.

How about this. Rp.1/second on net and Rp.10/second off net. How did you calculate them on per minute basis? Rp.60/minute and Rp.600/minute. Just as simple as that. for the SMS rate, Rp.55 + tax 10% would be 55 + 5.5 rounded down = Rp.60/sms. So what wrong with this number? FYI, for inter area rate, Axis USE Rp.1,200 INSTEAD OF Rp.6,000. They also use Rp.10/10kB as their data rate, no 6 there. So give me a break you 666 maniac.

Besides, You care so much for unproven words like the profit will go to Devil church, but never care about solid fact that most of US funds are for their military as the biggest aggressor in the world. And you provide them by buying their products under license (where those license money of course taxed which go to government). What did you do? Stop consuming those products? NO. YOU ENJOY THEM THE VERY SAME AS THEY ENJOY AXIS’ SERVICES. So just shut up fellow hypocrites. *masa maling teriak maling* :p

Guys. Have you ever consider about the effect of what you done? Don’t you ever think that if Axis goes bankrupt, they have so many employees which must carry the burden. Being jobless. Who will feed them? You guys? I don’t think so. You just a group of hypocrites who talk loudly to accuse something has connection with evil, but then hiding after society took the burden of what you’ve done.

So, my suggestion is, stop thinking about axis as satanic card, evil card, or whatever you said. Direct your voice to the real evil, those who eat people fund, those who corrupted, those who chose prestige above people suffering. There’s a lot of real evil need your attention out there. Go Go Go … !!! 🙂

========
Satanic card? yeah right … :p

Saya Bukan Pengemis

Posted in Snack for the souls with tags , on November 28, 2006 by Firstiar N

Begitulah kira-kira yang terucap oleh seorang nenek berbaju lusuh. Ketika itu, nenek tersebut sedang tiduran beralas koran di emperan toko, sekitar kurang dari jam dua siang.

Saat itu saya sedang bersilaturahmi ke rumah teman di Jogjakarta. Daerah Gentan lebih tepatnya. Memang sih lebaran sudah lewat sebulan yang lalu. Tapi yah, berhubung blognya barusan dibikin, jadilah sekarang baru dipost ^_^a

Saat itu, selepas shalat dhuhur, saya melihat seorang nenek yang sedang tiduran seorang diri di emperan toko yang sedang tutup. Sekilas, siapapun pasti mengira bahwa nenek itu termasuk salah satu pengemis. Bagaimana tidak, penampilannya memang tidak berbeda dengan pengemis-pengemis lain. Bahkan bisa dibilang lebih lusuh.

Ketika saya hampir dekat, datang sebuah mobil dan parkir dekat pengemis tersebut tidur. Rupanya keluarga pemilik mobil tersebut hendak membeli buah-buahan di seberang toko tempat pengemis tersebut tidur. Buat oleh-oleh mungkin. Karena mendengar suara mobil didekatnya, nenek tersebut terbangun. Seorang wanita, mungkin ibu dari keluarga pemilik mobil tersebut, memberikan beberapa lembar uang kepada nenek tersebut. Cukup besar untuk sekedar diberikan kepada pengemis. Tak disangka, nenek tersebut menolak. Beliau bilang, yang kira-kira kalau diartikan, “Maaf, nduk. Saya memang miskin. Saya memang gelandangan. Tapi bukan berarti saya pengemis yang bisanya cuma minta-minta”, sambil mengembalikan uang tersebut kepada wanita tadi.

Saat itu saya tertegun. Bahkan seorang nenek, yang masih punya keluarga untuk dihidupi, bahkan menolak untuk dikasihani dengan diberi uang. Beliau lebih suka dibayar untuk melakukan suatu pekerjaan daripada berhutang budi pada orang lain. Begitu kontras dengan banyak orang yang masih suka mengambil hak orang lain walaupun sebenarnya kekayaan mereka lebih dari cukup. Benar-benar sebuah pelajaran berharga bagi saya agar selalu menjaga amanah berupa kewajiban sebelum menuntut hak. Bagaimana dengan anda?