Lusi oh Lusi…

Lusi …. a.k.a Lumpur Sidoarjo …
Dua tahun sudah sejak bencana tersebut terjadi. Masyarakat sedikit demi sedikit mulai melupakannya. Media massa telah melepas bidikan darinya. Namun nasib para korban masih belum juga mendapat kejelasan.

Ketika bencana tersebut terjadi, banyak orang bersimpati, banyak orang yang mendukung para korban untuk mendapatkan ganti rugi. Sehingga tekanan kepada PT. Lapindo Brantas untuk memberi ganti rugi begitu besar. Pada akhirnya, pertengahan tahun 2007, sekitar setahun yang lalu, Lapindo Brantas menyetujui untuk melakukan ganti rugi kepada korban lusi tersebut. Sebuah kesepakatan pun terjadi. Saat itu Lapindo Brantas menyetujui untuk membayar 20% ganti rugi sebagai uang muka, dan 80% sisanya setahun kemudian. Rakyat pun mulai lega. OK lah … setahun masih bisa ditahan-tahan. Masih bisa mencoba sabar.

Sekarang, setahun telah berlalu. Bulan juni yang baru saja lewat adalah tenggat waktu bagi Lapindo Brantas untuk melunasi hutang-hutangnya kepada para korban. Tapi apa yang terjadi? Korban masih tak kunjung mendapat kejelasan. Semua masih terlihat hablur (istilah kerennya, blurry :p). Lagi-lagi Lapindo Brantas mengulur-ulur waktu pelunasan seolah-olah berharap para korban lupa bahwa masih ada 80% lagi hak mereka yang belum dilunasi oleh Lapindo Brantas.

Dan sialnya, pemerintah terkesan adem ayem atas hal itu. Padahal, banyak sekali kepentingan dari para korban yang tidak semuanya bisa menunggu lama. Apalagi menunggu rumah pengganti yang tak kunjung jelas kapan selesai dibangunnya. Padahal banyak korban yang terpaksa berhutang dan semakin lama semakin menumpuk karena harta mereka, hak mereka yang sejatinya bisa dipakai untuk melunasi hutang, “ditilep” Lapindo Brantas dan masih ga jelas kapan akan dikembalikan. Saya semakin ga respek dengan Lapindo Brantas. Kayaknya daripada PT Lapindo Brantas, mending ganti nama jadi PT Lapindo Brengsek aja kali yah? Yah … kalau memang kami para korban harus “ditenggelamkan” dalam Lusi, biar lah. Biar sekalian kami kutuk mereka yang menenggelamkan kami agar sengsara dunia akhirat.

NB: Maap di paragraf akhir rada kasar. BT ama kapitalis, pemerintah, aparat, cendekiawan, dan pihak-pihak terkait yang melakukan KKN di depan mata para korban. Makin lama bisa hilang nasionalismeku kalau semua elemen bangsa begini terus >.<

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: